Cukup satu kalimat untuk menggambarkan film ini, “Kisah dari Hollywood yang powerful, brilliant, dan sebuah klasik.” Awalnya, saat menyaksikan menit-menit awal dari film ini, saya tidak menyangka dengan sebuah kisah flashback, dan agak cukup membosankan. Memulai dengan pengenalan karakter yang cukup dalam dengan karakter utamanya Joe Gillis, yang diperankan oleh William Holden, seorang penulis naskah film-film kelas B yang tersandung dengan hutang. Pelariannya dari para pengejarnya membuat Ia secara tidak sengaja bertemu dengan seorang aktris dari masa film bisu, Norma Desmond, yang diperankan oleh Gloria Swanson.

Sejak pertemuan keduanya, saya merasa titik ketertarikan untuk menonton film ini semakin meningkat. Billy Wilder, sutradara sekaligus salah satu penulis naskah film ini, menyajikan sebuah black comedy yang cukup menarik, dengan mengambil bumbu-bumbu Hollywood, dan juga cameo-cameo dari Hollywood yang berperan sebagai diri mereka sendiri. Banyak tokoh-tokoh yang dikaitkan dengan film ini. Sebuah eksekusi cerita yang terbilang berani, dan berhasil.

72-Picture1
Courtesy of Paramount Pictures © 1950

Sebagai seorang artis yang bukan dimasanya, membuat Norma hidup di mansion mewahnya, dengan seorang pelayan yang super loyal bernama Max, yang diperankan oleh Erich von Strohein. Kesalahpahaman pada bagian awal secara langsung membuat Joe untuk mendapatkan sebuah penawaran, yaitu menyajikan kembali sebuah naskah buatan Desmond, yang berjudul Salomé, sebagai aksi kembalinya ke dunia film. Dunia film yang bertransformasi dari bisu menjadi bersuara, terbilang mematikan bagi perjalanan karier Desmond. Penawaran yang sangat menarik dari Desmond, membuat Joe harus terikat dan masuk ke dalam kehidupan super sepi ala Desmond.

72-Picture4
Courtesy of Paramount Pictures © 1950

Penonton juga akan berkenalan dengan sosok Betty Schaefer, yang diperankan oleh Nancy Olson, seorang wanita muda berusia 22 tahun yang merupakan seorang penilai kelayakan naskah di Paramount Studios. Betty yang awalnya menilai naskah buatan Joe terbilang buruk dan tidak menarik, tiba-tiba “jatuh cinta” dengan sebuah naskah Joe yang berjudul “Dark Window”, dan berusaha untuk merevisi kisahnya demi menjadi seorang penulis naskah.

Film ini seperti menggambarkan sebuah realita yang terjadi di Hollywood. Ketika ketenaran, kemewahan, dan kekayaan, bukan menjadi sebuah hal yang mampu memuaskan seseorang. Desmond yang sangat berkarakter, dapat memiliki segalanya selain cinta. Namun, tiba-tiba Joe yang hanya sekedar sebagai pekerja untuk Desmond, berubah untuk menjadi sosok yang dicintainya. Sayangnya, Joe merasa tidak nyaman dengan semua perbuatan Desmond baginya, walaupun Ia sulit untuk menolak, karena tidak ada pilihan lain baginya.

72-Picture3
Courtesy of Paramount Pictures © 1950

Bumbu percintaan tetap diangkat Billy Wilder dalam film ini. Tetapi yang menjadi sebuah ketertarikan adalah setting tempat film ini, sebuah mansion mewah berkesan horror milik Norma Desmond dan studio Paramount. Mansion Desmond dapat dianggap sebagai salah satu setting yang cukup menakjubkan, dan memegang unsur penting cerita dalam film ini. Musik arahan Franz Waxman, juga cukup mendukung setiap adegan. Walaupun film klasik identik dengan sistem suara mono, namun film ini tidak akan membosankan.

72-Picture2
Courtesy of Paramount Pictures © 1950

Bisa dikatakan film ini adalah salah satu yang terbaik dari tahun 1950, selain All About Eve. Kedua judul film tersebut masih menjadi film yang cukup populer hingga saat ini. Tetapi bisa dikatakan film ini adalah salah satu yang terbaik dari Gloria Swanson. Swanson memberikan sebuah penampilan yang brilliant, powerful, dan sangat berkarakter. Ia berhasil mentransfer dirinya dan hanyut sebagai Desmond yang sangat pencemburu dan sombong. Padahal dalam kenyataan realitanya, film ini cukup memberikan beberapa kemiripan dengan aktor-aktris film ini. Gloria Swanson memang adalah seorang aktris dari era film bisu yang sangat terkenal. Walaupun Desmond memang berbeda dengannya, namun dengan bermain film ini seperti “comeback” setelah 9 tahun tidak bermain film, sejak film “Father Takes a Wife” di tahun 1941. Begitupun dengan sosok Max yang ternyata merupakan sutradara dan mantan suami pertama Desmond. Erich von Stroheim awalnya adalah seorang sutradara dan pernah menyutradarai sebuah film berjudul “Queen Kelly”, yang juga diperankan Swanson. Bedanya, Stroheim tidak pernah menjadi suami Swanson.

72-Picture7
Courtesy of Paramount Pictures © 1950

Memenangkan 3 piala Oscar, untuk Best Art Direction, Best Writing, dan Best Music Score, sudah tidak menjadi sebuah hal yang cukup mengejutkan. Yang mengejutkan adalah kegagalan Swanson untuk ketiga kalinya untuk mendapatkan piala Oscar, dimana ini adalah nominasi terakhirnya. Selain itu, keempat pemeran utama film ini menyabet sebuah nominasi untuk empat kategori akting, walau tidak ada satupun yang memenangkannya. Tidak hanya itu saja, Best Director dan Best Picture dan dua nominasi lainnya gagal meraih sebuah piala Oscar.

Walaupun terbilang kurang memuaskan dalam penghasilan piala Oscar di ajang Academy Award, “Sunset Blvd.” tetap menjadi sebuah favorit klasik yang sangat layak ditonton. Film ini sangat berhasil menggambarkan kesepian dan obsesi Desmond, yang harus berakhir begitu saja. Seperti karakter Desmond yang selalu merasa sebagai bintang besar, walaupun sebenarnya sudah redup, Swanson adalah kunci dari film klasik ini. Mungkin tanpa sosok Swanson, film ini akan terkesan biasa dan sudah dimakan oleh jaman.

Sunset Blvd. (1950)
NR, 110 menit
Drama, Film-Noir
Director: Billy Wilder
Writer: Charles Brackett, Billy Wilder, D.M. Marshman Jr.
Full Cast : William Holden, Gloria Swanson, Erich von Stroheim, Nancy Olson, Fred Clark, Lloyd Gough, Jack Webb, Franklyn Farnum, Larry J. Blake, Charles Dayton, Cecil B. DeMille, Hedda Hopper, Buster Keaton, Anna Q. Nilsson, H.B. Warner, Ray Evans, Jay Livingston
#72 – Sunset Blvd. (1950) was last modified: November 17th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here