“August Rush” adalah sebuah drama romantis yang berusaha menyatukan sepasang kekasih yang terpisah dari alunan musik anak mereka. Tidak hanya itu, mencari anak yang hilang dan kisah seorang anak yang jenius  dengan musik, menjadi bagian yang penting di dalam cerita ini. Memulai dengan adegan yang cukup indah, dimana seorang anak yang mendengar dari tiupan angin yang menyentuh tanaman hingga bersuara, akan memulai menarik penonton ke dalam kisahnya.

Film drama ini mengisahkan seseorang anak yang bernama Evan, yang diperankan oleh Freddie Highmore, yang cukup terkenal lewat “Finding Neverland”, “Charlie and Chocolate Factory”, serta “The Spiderwick Chronicles”. Kali ini Highmore berperan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan musik yang jenius. Maklum saja, dalam jiwa orangtua yang tidak dikenalnya mengalir jiwa musik. Sang Ayah, Louis Connely, diperankan oleh Jonathan Rhys Meyer, adalah seorang vocalist band, yang jatuh cinta dengan Lyla Novacek, yang diperankan oleh Keri Russell, yang merupakan seorang Cellist. Di dalam keduanya mengalir seni yang berbeda, namun membuat anak mereka, menjadi seseorang yang sangat handal dengan musik dan pendengarannya.

35-Picture7
Courtesy of Warner Bros., Southpaw Entertainment, CJ Entertainment © 2007

Hubungan mereka yang sebetulnya hanya terjadi dalam semalam, membuat Lyla harus mengandung. Tanpa diketahuinya, Ayah Lyla yang tidak menyetujui hubungan percintaan anaknya itu, memasukkan bayi yang baru lahir itu kedalam sebuah panti asuhan. Lyla hanya tahu bila anak itu telah meninggal saat lahir, dan rahasia pun terkuak.

Evan yang besar di sebuah panti asuhan, berusaha kabur, dan tiba di kota New York. Memulai petualangannya disana, Ia bertemu dengan Arthur, seorang pengamen jalanan. Melalui Arthur, Evan dipertemukan dengan Wizard, diperankan oleh Robin Williams, yang merupakan pemimpin dari kumpulan pengamen cilik ini. Ia melihat bakat musik Evan, dan memberinya nama panggung August Rush. Wizard menjual Evan ke berbagai café, demi meraup untuk dari anak ini.

35-Picture2
Courtesy of Warner Bros., Southpaw Entertainment, CJ Entertainment © 2007

Seorang pekerja dari pelayanan anak, bernama Richard Jeffries, diperankan oleh Terence Howard, mencari Evan yang telah hilang dari panti asuhan.  Ia menjadi salah seorang yang berperan dalam membantu Lyla dalam menemukan anaknya yang hilang.

Evan kemudian menemukan kehampaan, setelah dirinya tahu bahwa Ia hanya dimanfaatkan. Ia melarikan diri dari Wizard, dan menemukan sebuah gereja. Di gereja tersebut, Ia malah mendapatkan sebuah bantuan untuk masuk ke dalam sebuah sekolah musik yang sangat terkenal, The Julliard School. Kemampuan Evan menjadi semakin diasah dan membuatnya dirinya semakin mendalami musik.

Kesenangan yang telah dimiliki Evan tidak hanya sampai disitu. Ia dipilih menjadi sebagai konduktor dalam sebuah konser musik yang juga menghadirkan Ibunya, Lyla. Tetapi Wizard kembali menculik Evan untuk menghidari acara besar tersebut, dan beruntung, berkat bantuan Arthur, Evan mampu kabur dari Wizard.  Konser musik disini menjadi sebuah titik puncak dari kisah ini. Dimana tidak hanya Anak dan Ibu yang dipertemukan secara tidak langsung, tetapi juga Sang Ayah, ketika membaca sebuah iklan tentang acara tersebut. Ketiganya pun bertemu dan mengakhiri kisah ini dengan indah.

35-Picture4
Courtesy of Warner Bros., Southpaw Entertainment, CJ Entertainment © 2007

Film ini disutradarai oleh Kirsten Sheridan. Walaupun kurang dikenal, namun Ia berhasil menyajikan sebuah film drama keluarga yang menawan. Film yang didukung oleh Mark Mancina sebagai penata musik dalam film ini, memberikan beberapa alunan musik klasik yang diimprovisasikan dengan getaran-getaran dan suara-suara dari benda secara indah.

Akting dari Highmore, tetap membuktikan bahwa Ia sangat piawai dalam berakting, walaupun sudah semakin besar. Terkenal dengan peran anak kecil, memberikan sebuah tantangan tersendiri bagi Highmore, dan Ia membuktikannya. Selain itu Robin Williams, yang gemar terlihat jenaka, memperlihatkan bad side-nya yang jarang ditampilkan. Begitupun dengan Russell, yang memperlihatkan kekuatan insting seorang Ibu dalam mencari anaknya yang hilang. Secara garis besar, akting yang ditampilkan di dalam film ini cukup baik. Selain dengan tunjangan cerita yang kuat, membuat film ini menjadi cerita yang cukup mengharukan.

35-Picture3
Courtesy of Warner Bros., Southpaw Entertainment, CJ Entertainment © 2007

Narasi terakhir Evan dalam film ini, “The music is all around us. All you have to do is listen.” Karakter Evan dalam film ini menggambarkan sebagai seseorang yang selalu memperhatikan suara-suara yang ada, dan menggabungkannya untuk menjadi sebuah gubahan yang indah. Jiwa seperti hanyut ke dalam musik, dan dengan musik membuatnya sebagai penuntun dalam perjalanan hidupnya.

Lagu “Raise It Up” yang dikarang oleh Jamal Joseph, Tevin Thomas, dan Charles Mack memberikan sebuah nominasi Oscar untuk Best Original Song. Lagu yang dinyanyikan oleh Jamia Simone Nash dan Impact Repertory Theatre, begitu indah. Apalagi Jamia yang masih kecil, walaupun dengan suara yang agak cempreng, tetapi sangat powerful dan membuktikan kualitas suara yang menakjubkan untuk ukuran suaranya.

Tidak hanya itu saja, Jonathan Rhys Meyer, juga menambah kelengkapan bagi soundtrack film ini dengan pada beberapa track. Instrument “Moon Dance” yang dimainkan Chris Botti dalam film ini sangat menarik, walaupun hanyalah sebagai background music. Serta permainan Kaki King dalam “Bari Improv” yang pada versi filmnya dimainkan dengan piawai oleh Freddie Highmore.

35-Picture6
Courtesy of Warner Bros., Southpaw Entertainment, CJ Entertainment © 2007

Walau berakhir dengan ending yang kurang memuaskan, film ini tetap menghibur. Film ini berusaha menyatukan musik dan cinta, dimana musik yang mempertemukan sebuah cinta. Adegan yang paling menarik adalah ketika perbincangan antara Evan dan Louis. Keduanya sangat akrab dan sayangnya tidak sadar dengan hubungan asli mereka. Sayang, pertemuan yang sebentar itu hanya menjadi momen yang begitu saja keduanya, yang sebenarnya cukup bermakna dalam hubungan ayah dan anak.

“August Rush” adalah sebuah film yang unik, walau mengambil latar cerita dengan perpaduan unsur musik. Walaupun sebenarnya hanyalah sebuah kisah yang sederhana, namun kerumitan dan perjalanan hidup dari Evan, akan mampu memberikan sesuatu yang tersendiri bagi penonton. Penonton akan merasakan sesuatu yang berbeda dari permainan gitar unik ala Evan, dimana Ia tidak hanya memetik, tetapi memainkan gitar dengan menepuknya. Sebuah tontonan drama yang cukup menghibur, apalagi dengan irama musik klasiknya yang fantastik.

August Rush (2007)
PG, 114 menit
Drama, Music
Director: Kirsten Sheridan
Writer: Nick Castle, James V. Hart, Paul Castro
Full Cast : Freddie Highmore, Keri Russell, Jonathan Rhys Meyers, Terrence Howard, Robin Williams, William Sadler, Marian Seldes, Mykelti Williamson, Leon Thomas III, Aaron Staton, Alex O’Loughlin, Jamia Simone Nash, Ronald Guttman, Bonnie McKee, Michael Drayer, Jamie O’Keeffe, Becki Newton, Tyler McGuckin, Megan Gallagher, Anais Martinez, Bilal Bishop, Michael R. Hammonds II, Timmy Mitchum, Henry Caplan, John Knox, Amy V. Dewhurst, Victor Verhaeghe, Darrie Lawrence, Sean Haberle, Jamal Joseph, Robert Aberdeen, Georgia Creighton, Joshua Jaymz Doss, Craig Johnson, Dominic Colon, Zach Page, Amma Agyapon, Adia Beckford, Dietrice A. Bolden, Dina Gardener, Luther Isler, Raymond Johnson, Joyce Walker Joseph, Willana Mack, Lamar Antwon Robinson, Talif Showers, Carlton Taylor, Yvette Bodrick, Crystal A. Elliott, Jindai Joseph, Jacquelen Singleton, Travis Veada, Jasmine Pauline Wigfall
#35 – August Rush (2007) was last modified: November 17th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here