Drama keluarga yang satu ini berjudul “Whale Rider”, menceritakan perjalanan seorang gadis Maori yang “tidak diinginkan” oleh sang kakek. Film yang berasal dari Selandia Baru ini akan membawa penonton pada kehidupan Pai, sosok utama dalam film ini.

Gadis ini bernama Paikea. Ia merupakan satu-satunya yang selamat dari tragedi kelahirannya. Ibu dan saudara kembar laki-lakinya meninggal. Pai, begitu panggilannya, diperankan oleh Keisha Castle-Hughes. Kelahirannya tidak dipandang seperti sebuah kebahagiaan. Ayah Pai, Porourangi, yang diperankan oleh Cliff Curtis, menitipkannya pada orang tuanya dan berusaha untuk move on dengan pergi ke Jerman.

141-Picture3
Courtesy South Pacific Pictures, ApolloMedia Distribution, Pandora Filmproduktion, New Zealand Film Production Fund, New Zealand Film Commission, New Zealand On Air, Filmstiftung Nordrhein-Westfalen © 2002

Pai hanya hidup dengan kakek dan neneknya. Kakeknya, yang dipanggil dengan Koro, merupakan tetua Maori di daerah setempat. Leluhur mereka adalah Paikea, atau dikenal sebagai Kahutia Te Rangi, yaitu pengendara paus. Ya, namanya sama seperti Pai, ini sesuai dengan permintaan sang Ibu pada Ayahnya sebelum Ia menghembuskan nafas terakhir. Dalam adat istiadat mereka, penerus tetua adat haruslah cucu laki-laki. Inilah yang menjadi permasalahan bagi Koro.

Sebetulnya, sosok Koro yang diperankan oleh Rawiri Paratene, adalah karakter yang keras namun menyayangi anak dan cucunya. Koro sangat keras pada Ayah Pai, hingga Ia tidak betah untuk tinggal di rumah. Walaupun Ia juga menyayangi Pai, Koro merasa bahwa sepertinya ada yang salah dengan kehadirannya. Koro yang mengalami krisis kepemimpinan berusaha untuk menyiapkan calon penerusnya. Di sisi lain, Pai berusaha untuk meyakinkan Koro dan mendapatkan kembali perhatiannya.

141-Picture4
Courtesy South Pacific Pictures, ApolloMedia Distribution, Pandora Filmproduktion, New Zealand Film Production Fund, New Zealand Film Commission, New Zealand On Air, Filmstiftung Nordrhein-Westfalen © 2002

Film berdurasi 101 menit ini disutradarai oleh Niki Caro. Kisahnya sendiri berasal dari sebuah novel berjudul sama, karangan Witi Ihimaera. Caro kemudian mengadaptasinya sekaligus menyutradarainya, dan berhasil menjadi sebuah tontonan yang luar biasa. Awal bagian film ini sebetulnya terkesan biasa saja. Namun, seiring berjalannya cerita, Saya cukup terbius dengan kisah Pai yang cukup menyayat lewat magisnya. Entah kenapa, ketika sudah mulai memahami ceritanya, film ini akan membawa Anda ke titik emosional yang lebih dalam.

Dari penampilannya, karakter Pai dan Koro menjadi “nyawa” utama film ini. Keisha Castle-Hughes cukup menyihir lewat perannya, walaupun Ia baru 13 tahun dalam film ini. Setelah menyaksikan film ini, saya tidak heran mengapa penampilannya dalam film ini cukup sukses untuk menuai banyak penghargaan, termasuk sebuah nominasi Best Actress in Leading Role pada ajang Academy Awards, sekaligus memecahkan rekor sebagai nominator termuda pada kategori itu sebelum akhirnya dikalahkan Quvenzhané Wallis, satu dekade kemudian.

141-Picture5
Courtesy South Pacific Pictures, ApolloMedia Distribution, Pandora Filmproduktion, New Zealand Film Production Fund, New Zealand Film Commission, New Zealand On Air, Filmstiftung Nordrhein-Westfalen © 2002

Lain halnya dengan sosok Koro yang diperankan Rawiri Paratene. Kekerasan hati Koro membuat Saya untuk menyaksikan segala tingkah lakunya dengan mencoba melihat perspektifnya. Walaupun tidak sepenuhnya salah pada akhirnya, Paratene menghadirkan sebuah penampilan cukup meyakinkan. Walaupun secara umum tokohnya terkesan sebagai antagonis, ini tetap adalah sebuah film keluarga. Jalan keluar antagonis setahu Saya hanya ada dua di family-themed movies: menjadi baik serta berdamai dengan pemenang (protagonis) atau dihukum setimpal.

Film ini dikemas dengan menggunakan dua bahasa, Bahasa Inggris dan Maori. Ada beberapa adegan yang membuat Saya tidak memahami artinya, karena ada beberapa ucapan yang sering dilontarkan dalam Maori seperti paka, koro, wehi, ihi, dan lainnya. Penonton juga akan berkenalan dengan taiaha, sebuah senjata adat Suku Maori yang berasal dari tongkat kayu.

141-Picture6
Courtesy South Pacific Pictures, ApolloMedia Distribution, Pandora Filmproduktion, New Zealand Film Production Fund, New Zealand Film Commission, New Zealand On Air, Filmstiftung Nordrhein-Westfalen © 2002

Bagian yang paling menyentuh saya dalam film ini adalah ketika Pai membacakan pidatonya untuk Koro: “… And by being born, I broke the line back to the ancient ones. It wasn’t anybody’s fault. It just happened. But we can learn, and if the knowledge is given to everyone, then we can have lots of leaders. And soon everyone will be strong, not just the ones that have been chosen. Because sometimes, even if you’re a leader and you need to be strong, you can get tired… like our ancestor Paikea, when he was lost at sea and couldn’t find the land, and he probably wanted to die, but he knew the ancient ones were there for him.” Lalu, keesokan harinya, segelintir Paus terdampar di pantai dan Pai berkata dalam narasinya: “I called them and they came.. but it wasn’t right. They were dying.”

Gender juga menjadi salah satu sentilan dari film ini. Adat Maori dalam cerita ini menganut Patrilineal, suatu adat masyarakat yang menarik garis keturunan dari Ayah, dan laki-laki yang memiliki kekuasannya. Saya masih ingat dengan kutipan Koro yang sedang krisis penerus, “When she was born, that’s when things went wrong for us. That’s where we’ll find the answer.” Film ini kembali mengajak penonton untuk mencoba mengerti bahwa kadang tidak semua hal harus berjalan dengan semestinya, mungkin akan selalu ada makna dibalik hal tersebut dari pencipta.

Whale Rider (2002)
PG-13, 101 menit
Drama, Family
Director: Niki Caro
Writer: Niki Caro, Witi Ihimaera
Full Cast : Keisha Castle-Hughes, Rawiri Paratene, Vicky Haughton, Cliff Curtis, Grant Roa, Mana Taumaunu, Rachel House, Taungaroa Emile, Tammy Davis, Mabel Wharekawa, Rawinia Clarke, Tahei Simpson, Roi Taimana, Elizabeth Skeen, Tyronne White, Taupua Whakataka-Brightwell, Tenia McClutchie-Mita, Peter Patuwai, Rutene Spooner, Riccardo Davis, Apiata Whangaparita-Apanui, John Sumner, Sam Woods, Pura Tangira, Jane O’Kane, Aumuri Parata-Haua
#141 – Whale Rider (2002) was last modified: November 20th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here