Sebagai anti-war­ film pertama buatan Stanley Kubrick, “Paths of Glory” merupakan sebuah drama perang yang coba mengkritisi bagaimana efek kekuatan pangkat mengalahkan segalanya lewat aksi decimation. Film ini akan berkisah mengenai Kolonel Dax dan pasukannya, yang ditugaskan berada di garis depan perang. Colonel Dax, yang diperankan oleh Kirk Douglas, ditugaskan untuk sebuah misi yang agak mustahil: menguasai “Anthill.” Anthill sendiri merupakan markas sarang tentara Jerman.

Film berawal dengan kehadiran Mayor Jenderal Georges Broulard, yang diperankan oleh Adolphe Menjou, yang bertemu dengan bawahannya, Brigadir Jenderal Mireau. Broulard menugaskan Mireau untuk menguasai Anthill, sebuah upaya yang dapat dikatakan bunuh diri. Awalnya, Mireau, yang diperankan oleh George Macready dengan tegas berusaha untuk menolak. Alihnya, Ia tidak mau untuk mengorbankan para prajutirnya. Akan tetapi, lewat tambahan embel-embel promosi dari Broulard berhasil mencuci otak Mireau yang ambisius.

paths of glory
Courtesy of Bryna Productions © 1957

Kolonel Dax bersama prajuritnya berada di garis medan yang paling depan. Mereka membangun perlindungan berbentuk parit yang terdiri dari berlapis-lapis karung di sekelilingnya. Setiap saat mereka selalu mendapatkan serangan dari pihak lawan. Setelah mendapat arahan dari Broulard, Mireau segera melakukan inspeksi kecil sekaligus menemui Kolonel Dax. Ia menugaskan Kolonel Dax untuk menyerang Anthill. Walaupun keduanya sudah mengetahui bahwa ini adalah aksi bunuh diri, namanya perintah, ya tetap perintah. Harus dijalankan.

Rencana serangan pun dilakukan Dax. Masalahnya, ternyata tidak seluruh anggota regu ikut menyerang. Ada satu kelompok yang cukup pengecut. Kesalahan ini membuat Mireau mencari masalah. Ia kemudian menyalahkan Dax atas kepengecutannya dan meminta beberapa prajuritnya untuk dibunuh karena kegagalannya. Kisah ini kemudian berlanjut dengan bagaimana Dax dihadapkan dengan kondisi yang kurang menyenangkan dan upayanya untuk merencanakan aksi pembalasan manis.

121-picture2
Courtesy of Bryna Productions © 1957

Film berdurasi 88 menit ini merupakan sebuah kisah perang klasik dari perang dunia pertama yang memperlihatkan sisi lain. Kita tidak akan bercerita mengenai kegigihan para pasukan yang berhasil menguasai lawan. Tepatnya, kita akan bercerita mengenai bagaimana ketidakadilan itu terjadi sebagai upaya “cuci tangan” sang atasan. Saya cukup menyukai gaya penceritaan Kubrick, terutama bagaimana Ia memperlihatkan begitu luasnya perlindungan buatan lewat adegan inspeksi Jenderal Mireau. Kubrick cukup mengandalkan banyak long shot, dan interaksi perang yang lebih intens dibanding “Full Metal Jacket.”

121-picture3
Courtesy of Bryna Productions © 1957

Dari unsur cerita, sebetulnya tidak ada yang begitu spesial. Yang membuat spesial film ini adalah bagaimana Kubrick menampilkannya, terutama lewat presisi dan ekspresi dari setiap karakternya. Kisah film ini sendiri merupakan sebuah adaptasi novel berjudul sama karangan Humphrey Cobb. Sejujurnya, awalnya saya cukup kurang menyukai bagaimana sikap Kolonel Dax yang seakan diperlihatkan tidak punya taring untuk melindungi bawahannya. Akan tetapi, semua agak cukup terbayar ketika menyaksikan di bagian akhir cerita.

Yang menarik disini adalah karakter Mireau, sosok antagonis di film ini. Macready menghadirkan karakter yang cukup menyebalkan, yang membuat usahanya terlihat berhasil di film ini. Selain itu, Kubrick akan kembali mengajak penonton dengan dehumanisasi. Ini terlihat dengan jelas lewat ketiga karakter yang nantinya akan dikorbankan. Akan tetapi, sebetulnya mungkin kesan tersebut tidak ditujukan lewat perwakilan tiga sosok ini saja, melainkan sepatutnya ke seluruh tentara yang saat itu berjuang.

121-picture5
Courtesy of Bryna Productions © 1957

Salah satu adegan lainnya yang menarik dalam film ini adalah bagian penutup cerita ini. Ketika Broulard melakukan percakapan dengan Dax. Broulard mengatakan, “Colonel Dax, you’re a dissapointment to me. You’ve spoiled the keenness of your mind by wallowing in sentimentality. You really did want to save those men, and you were not angling for Mireau’s command. You are an idealist… and I pity you as I would the village idiot. We’re fighting a war, Dax, a war that we’ve got to win. Those men didn’t fight, so they were shot. You bring charges against General Mireau, so I insist that he answer them. Wherein have I done wrong?” Menariknya, Dax membalas, “Because you don’t know the answer to that question. I pity you.”

121-picture6
Courtesy of Bryna Productions © 1957

Film ini tidak berbicara tentang peristiwa ataupun konflik, melainkan berupaya menghadirkan ceritanya sebagai sebuah tragedi. Tidak mengherankan bila saat film ini dirilis di tahun 1957, Perancis, Jerman dan Spanyol agak cukup keras untuk menayangkan film ini. Walaupun menuai sedikit kontroversi, anggap saja ini hanyalah sebuah fiksi yang coba direalisasikan dengan latar belakang keadaan yang pernah terjadi. Tapi balik lagi, kegiatan decimation sebetulnya adalah salah satu aksi hukuman yang biasa diterapkan di Perancis pada masa perang, walaupun agak jarang dilakukan ketika Perang Dunia pertama.

Paths of Glory (1957)
Approved, 88 menit
Drama, War
Director: Stanley Kubrick
Writer: Stanley Kubrick, Calder Willingham, Jim Thompson, Humphrey Cobb
Full Cast : Kirk Douglas, Ralph Meeker, Adolphe Menjou, George Macready, Wayne Morris, Richard Anderson, Joe Turkel, Christiane Kubrick, Jerry Hausner, Peter Capell, Emile Meyer, Bert Freed, Kem Dibbs, Timothy Carey, Fred Bell, John Stein, Harold Benedict

#121 – Paths of Glory (1957) was last modified: Juli 11th, 2021 by Bavner Donaldo